p.s. Az-Zahra

letting go of the pressure to let go

halo! kalimat di atas adalah kalimat yang baru saja aku temukan di internet, dan kurasa resonate dengan kondisiku.

aku sedang di titik perhentian yang isinya harus merelakan, mengikhlaskan, melepaskan, melakukan segala upaya untuk melanjutkan perjalanan tanpa seorang yang kukira bisa membersamai aku selama-lamanya.

setiap hari rasanya ada sesak bila tak sengaja kutemukan fakta baru kalau sosial mediaku bahkan sudah tidak bertaut dengannya, kabar buruknya itu tetap sakit di ulu hati dan memancing iba, kabar baiknya aku mulai terbiasa dan nyeri-nya semakin kerdil juga. minggu ke tiga dengan merasakan kepahitannya setiap hari, menahan diri untuk tidak menjadi yang pertama memutus kontak pertemanan, menahan untuk tidak menghapus keseluruhan percakapan, menahan untuk tidak terkonfrontasi lagi dengan tindakan maupun angan baik dari dalam diri atau dari luar ruangan, dari kekasihmu.

bila ada yang bertanya, kenapa tak ambil jalan pintas dengan memutus pertemanan dan melakukan blokir duluan? aku sudah melakukannya dulu, selalu, berpuluh kali selama lebih dari sewindu, pada akhirnya aku menjadi liar dalam pikiranku dan menyesali, menjustifikasi tindakan mereka yang menyakitkan karena tidak ada bilah obrolan yang bisa ku analisis isinya ketika mereka menyakiti aku, tidak ada hal yang bisa aku lakukan selain membuka tombol blokir dan mengenang dengan diam, ber-angan-angan seakan mereka mungkin merasa bersalah, ketika kenyataannya mereka berbahagia dan semakin merekah.

apa yang kulakukan kali ini mungkin juga menyakitiku lebih, tapi disitu cinta yang kumiliki untuk dia, yang bertahan bertahun lamanya, hilang, punah, habis tak bersisa. aku melihat apa yang dia lakukan saat aku tidak membatasi dan menutup jalur komunikasi yang ada, dan tahu jawabannya? dia yang memutus, dia yang tidak mau memperbaiki, dia yang memilih untuk tidak menghiraukan aku, dan itu sangat jelas, tindakan paling jelas yang dia lakukan setelah sebelumnya kerap menjerat aku dengan gaya komunikasi tak tentu yang tidak mau bertanggung jawab akan rasaku, tapi mau tetap di hidupnya ada aku.

selama bertahun-tahun, aku selalu jadi orang yang menutup, dan aku menyesal karena pikirku ia mungkin berusaha kembali menjalin komunikasi denganku. nyatanya tidak. buktinya sudah jelas sekarang. aku tidak punya penyesalan lagi dan perandaian karena aku jelas masih bisa diketuk ruang diskusinya, dia yang meninggalkan dan sungguh padaku lega-nya tiada dua.

hari berjalan dengan lambat, aku betulan melangkah dengan yakinku yang tak seberapa, aku takut; tentu saja, patah hati, bosan, tapi tanpa banyak pegangan. namun yang tak terhingga harga jualnya, yang tak akan dapat ditemukan dimana-mana, aku berpegangan pada diriku, tuhanku, kedua sahabatku dan keluargaku. hal paling mahal yang tidak semua manusia di bumi ini akan dapati.

selalu kupanjatkan rasa syukur karena ayu dan sultan adalah dua manusia paling berharga dalam perjalanan putria menjalani kehidupan yang hanya satu kali ini, dalam senang maupun duka, dalam bodohnya aku kembali mengulang lingkaran yang sama, dalam kesalahanku yang kukira tidak akan dimakluminya, terimakasih sebesar-besarnya karena kalian sudah memutuskan dengan sadar untuk menetap di dunia yang ada akunya.

sultan pernah bilang, "saya tetap diam-diam menemui kamu saat saya tahu dia membenci kamu", sultan katakan dengan mantap ketika kutanya, "apa kamu akan baik saja dengan dia karena dia teman dekatmu, apa kamu akan memilih dia daripada aku". aku pikir itu cinta yang sebenarnya, dia, sultan, dengan sadar menemani aku dalam kondisi seperti apapun. the man you are, utan.

"putria, hati-hati pulangnya, ingat orang tua di rumah..."

"ada apa lagi yang kamu pikirkan dalam otak kamu, putria?"

"iya, dia jahat putria, dan kamu ngga jahat, itu reasonable crashout.."

pun dengan ayu yang selalu menerima keluhku, tetap mendengarkan dan menyambut aku, memperlakukan dengan baik, menerima kurangku, merangkul emosiku, ayu, ayu dan keluarganya yang tidak pernah absen menyuguhkan senyum saat aku bertamu, bertanya, "putria, kakinya gak apa-apa?" selepas aku tergelincir di tangga kerana kaus kaki imutku sendiri.

kubilang, "tante, makasih sudah terima aku main disini, maaf pulangnya malam-malam ya..."

dan dijawabnya, "ngga apa-apa putri, ngga nginap aja sekalian? kaki-nya gak apa-apa?..."

kupikir ini cinta yang amat besar dari dua pihak yang memang bukan romansa lawan jenis, tapi siapa lagi yang bisa diperlakukan dan memperlakukan sebaik ini?

siapa?

bukan mereka yang pergi, tentu saja.

dan aku sadar bahwa itu sangat tidak berharga, seseorang yang tidak menghargai aku itu, tidak perlu ada harganya, tidak lebih penting dari koin masa lampau yang katanya besar nominalnya kalau dijual pada peminatnya, tapi, untuk apa juga bagian dari masa lalu itu selain untuk dijadikan koleksi?

memangnya pantas untuk kubuatkan pigura atas patahan jantung dan lelehan air mataku? bukankah lebih baik kubuang saja hal tak berguna itu? karena sudah jelas aku punya yang lebih, lebih berarti dan berharga, dan tiada dua.

kerap terpikir aku harus melepas setiap harinya, apapun, agar semakin lega hatinya, namun minggu ke tiga melakukan pembersihan, aku sakit juga bila harus memaksa diri untuk melepaskan sesuatu yang aku tidak tahu apakah aku bahkan menggenggamnya.

jadi mungkin, jadi memang, kali ini aku melepas tekanan pada diriku untuk melepaskan sesuatu.

aku biarkan diriku meniadakan wujudmu, kutinggal pergi kenangan yang ada getirmu, yang termasuk harapanku agar dicintai olehmu.