p.s. Az-Zahra

kenapa aku melampiaskan amarah dengan membanting barang sampai timbul suara keras?

awalnya aku cuma diam, mungkin itu karena memang begitu caraku melampiaskan emosi, mungkin cuma itu caranya. tapi kemudian kadang aku sadar, kenapa ya, diantara banyaknya cara melampiaskan emosi, banting barang sampai berdebum keras adalah yang aku pilih? banting barang itu jadi respons yang aku keluarkan secara tidak sadar kalau menghadapi siatuasi yang bikin aku marah dan ngga nyaman, ketika aku ngga terima sesuatu terjadi di luar kendaliku.

jawabannya baru aku temui saat ini, bagaimana keluargaku berselisih dan bagaimana mereka merespons: benar, banting barang, berdebum keras, hingga aku yang mendengarnya merasa cemas, takut, sangat tidak nyaman, tidak betah, kepalaku sakit dan aku mau muntah.

respons lain seperti diam saat ada sesuatu yang menyinggung egoku (yang kemudian aku tahu itu tahapan aku memendam amarah), ditimbun terus sampai aku tidak sanggup lagi, lalu berargumen, dan membanting barang, atau pergi dari rumah. pergi dari rumah, tapi ingin kembali. tapi kemudian ingin pergi dan memisahkan diri, suasananya terlalu sakit. aku tidak ingin, aku takut, rasanya tidak nyaman. rasanya tidak aman.

jadi begitulah mungkin, bagaimana lingkungan sekitar memengaruhi caramu merespons amarah. sakit rasanya kepalaku, sakit rasanya hatiku.