karena rasanya sakit untuk terburu-buru, ayo coba pelan-pelan
genap sebulan, atau hampir genap sebulan semenjak itu. ada bagian dalam diriku yang sudah mengering lukanya, ada juga yang kian hari kian nyata rasanya. aku sadar bahwa terkadang aku yang ingin membuka kembali lukanya, aku sadar aku yang kembali merindukan dirinya.
namun kemudian aku kembali ke sini, ruangan yang setiap katanya dihasilkan dari tarian jari-jari ku, yang gema nya mengisi relung jiwaku, yang selalu aku cari ketika tak ada satupun hal lain yang bisa menenangkan aku.
aku temukan seseorang yang menyukai tulisku, yang bersemangat dan menanti untuk jadi bagian dari diriku, yang mendengar dan meresapi setiap rasa yang aku suratkan bersama hati, bersama harga diri dan segala hidup yang aku cintai.
dia kutemukan sebelum kembali pada si matahari, dia kulepas karena dia memang tidak jua sebaik itu, bedanya dia cuma memilih aku, dimatanya aku satu, pantas untuk dijadikan tuju.
kemudian setelah ini, janji pada diri sendiri bahwa aku akan menghapus segala jejak tentang matahari, janji pada diri bahwa selain kolom obrolan yang akan kujadikan senjata untuk berjaga, tidak lagi ada apapun yang aku genggam dari matahari super kecil yang agaknya terlalu bagus jua kunamai matahari, kini kuganti jadi puntung rokok yang sudah diujung saja, aku tak sengaja menginjakmu dan rasanya sakit di kaki ku.
si puntung rokok itu memang tidak cocok dianggap hidup. mati lah kamu dan kekasihmu dalam hidupku, mati lah dan jangan bertemu lagi, tidak ada sedikitpun inginku untuk menemui atau sekadar tahu kondisimu, mati lah karena terbakar api yang dibuat sendiri.
jangan lagi ada komunikasi, kalian tidak pantas.