p.s. Az-Zahra

its july 14! hi!

halo! ini jam 6.30 pm, hari ini kita libur, kita dapat libur 3 hari, alhamdulillah, berat ngga sih rasanya? berat karena kebayang nanti ga bisa bayar ukt lagi, karena harus super ngirit dengan salary yang sekarang berkurang karena ini part time, tapi rasanya ngga seburuk itu, emang lagi transisi aja, ya, you are doin well, you endure it so well this 3 years.

kalau merasa ngga punya tabungan, motor masih gitu aja, pajak belum pernah kebayar, sim belum punya, ya ngga apa, ya. kita bareng-bareng kerjainnya, ngga ada tenggat waktu sampai kita meninggal dunia. kamu keren sangat udah bisa tanggung hidup sendiri (walaupun masih ditanggung listrik, air, dan kebutuhan basic seperti tempat tinggal oleh orang tua), kamu udah keren banget sejauh ini, aku bangga sekali, yaya sayang.

mungkin nanti bakal geli banget baca kata sayang dari diri sendiri, tapi percaya aja kalau ini bakal sangat berarti, i do really loves us, sayang sekali.

apa ya, yang mau aku ceritakan? no hard feelings sih kayaknya, sudah mulai berdamai. kemarin kita jadi tuh beli emperano pizza, dulu kita senang banget karena ekal yang ajak, affordable dan enak banget lah diaa worth the price, kemudian waktu berjalan dan aku gabisa ajak ekal, gabisa ajak momo karena ldr, dan ketemu orang kemarin itu, aku berharap banyak bahwa aku bisa ke tempat-tempat yang aku ingini, kayak emperano ini, ternyataa ngga bisa, entah karena orangnya ngga tepat atau ya emang pada akhirnya yang bisa wujudkan mimpimu ya dirimu sendiri.

tadinya aku mau ajak sultan kesana karena aku juga punya hutang nasi goreng, tapi aku udah ga tahan pengen pizza dan kebetulan dekat tempat kerjaku lokasinya, satset bisa, tapi pas mau dibawa pulaang dia susah hahaha karena aku bawanya miring, ga enak banget sama temen-temen tapi alhamdulillah mereka menerima dengan baik, toppingnya turun ke bawah wkwkw.

semuanya senang dan berterimakasih, makasih juga ya semuanya udah menerima, ngga hanya pizzanya, tapi juga aku. terimakasih untuk sudah menerima kehadiran aku.

ini juga jadi bikin mikir, selama ini kayaknya aku harus selalu memberi dan mempersiapkan diri untuk diterima, seakan apabila aku datang dengan kosong di tangan, aku tak rubahnya apa-apa, aku tidak berkesempatan diterima.

tapi tuhan, bisa aku diterima dengan segalaku?

bekerja rupanya punya banyak detil kecil yang menyenangkan untuk diterima. bahwa aku bisa bersosialisasi dengan teman sebaya, menggadaikan waktu dan jasa untuk segenggam upah nantinya, memblokade raga sampai habis waktunya. kalau ada di dunia tempat aku bisa melakukan inginku tanpa upaya membawakan barang berharga, dimana letaknya?

di akhir perang, adakah yang tersisa dalam genggaman selain sisa abu yang melayang? adakah rupanya upaya yang diusahakan setengah mati dengan tombak dan parang, meninggalkan harta berupa sesuatu indah yang bukan hanya luka besetan di sepanjang raga yang disayang?

adakah yang cukup mampu, apakah aku cukup mampu berjalan tanpa tahu apa yang menanti di ujung,

kapankah kisah ini berujung