p.s. Az-Zahra

haloo ini udah malem dan aku butuh nulis lagi

seperti yang mungkin kalian baca di blog aku sebelumnya bahwa aku sedang dalam tahap move on, dan aku pengen cepet karena tiap hari rasanya intens sekali rasa sakitnya, rasanya juga terlalu banyak energi terbuang sia-sia untuk hal yang sudah terlewat dan tidak bisa kuubah jua. kadang, malah seringnya aku merasa aku yang sangat bersalah perihal aku yang kemudian memberi reaksi akan tindakan mereka dengan menyebar aib mereka, dari victim aku kemudian menjadi pelaku jua.

rasanya tidak adil, iya. kenapa?

fj: half truth, banyak berbohong, tidak tegas, dan analisa hal lainnya sendiri ya, aku selalu takut dia akan kembali ke sal karena aku benaran bukan tipe fj, tidak pakai kerudung, tidak baju ketat berkerudung, keseharianku juga biasa saja, kerja, istirahat, kunjungi fj, repeat. maka aku seringkali memastikan apa ia akan kembali kepada si puan? dan jawabannya adalah tidak mungkin, keluarganya sudah tidak suka, circlenya juga, ia sendiri juga terbalut trauma pengkhianatan (katanya), jadi aku pikir aku tidak perlu khawatir apakah dia akan kembali pada lukanya, aku bilang tidak apa kalau bukan aku, tapi jangan dia. fj bilang dia benci semua cewek karena trauma itu, maka aku bersedia menemani dan bilang "kalau kamu sama dia lagi kamu bilang ya sama aku", aku tau itu akan sakit tapi kalau dia bilang yasudah, aku tidak akan meledak. aku kira pengakuan aku kembali sudah paling parah.

ada satu waktu dimana fj minta waktu untuk menjauh dariku, dari semua orang, katanya. aku mengiyakan, tapi 4 hari kemudian aku bilang aku ngga bisa, iya aku mengganggu waktu dia, aku rindu, aku bilang. lalu kami bertemu, dan berbincang. dia bilang esoknya mau berlibur sendiri ke tempat yang setahuku punya kenangan diantara mereka, aku sempat ingin ikut dan dia bilang tidak bisa. baik, aku sanggupi, dia bilang ingin temanan saja aku sanggupi juga karena itu pilihan terbaik daripada kembali asing, sebelum aku tahu kalau dia berbohong, dia ke kota mantannya.

hari itu senin, atau selasa? aku lupa. tapi aku betulan pergi ke taman hutan raya sesuai ucapanku saat berbincang kemarin malamnya dengan dia, sendirian, healing yang menurutku ya healing betulan. sepulang dari sana aku masih mencoba untuk meminta foto dia di tempat liburannya, tapi dia menolak, dan kupikir ya itu biasa saja karena hak dan privasinya juga. jawabannya adalah "tidak", dan aku sudah mulai tahu, oh sudah tidak bisa aku dengannya.

lalu kemudian dia membalas statusku, dan aku tetap biasa saja, kemudian kita berbincang lagi, dan dia itu tidak jelas, tapi aku memang suka menerobos keraguanku sendiri, ada masa juga dimana ia menanyakan apakah aku akan datang setelah dia menolak kedatanganku karena ia bilang "tidak mau menyakiti hati aku, kecuali aku memaksa", tentu saja aku tidak mau memaksa, jadi aku tidak datang, aku berbelanja dan bersenang-senang, dia tidak menyenangkan aku dan aku bisa melakukannya untuk diriku sendiri.

manusia ini kemudian bertanya lagi, "kamu tidak jadi datang?" apa sih maunya dia? lalu karena aku terpancing lagi dan memang perasaanku belum musnah, kubilang kukira kamu ngga mau aku datang, yasudah esok aku datang.

esoknya, aku betulan datang, menunggu 3 jam karena ia meeting, berpenampilan sebaik mungkin, bergurau dan bersosialisasi lagi dengan kawan-kawannya.

dia bilang, "aku ngga tahu apakah setelah ini kamu akan tetap happy"

dan, dia bilang liburan kemarin dia ke kota hujan itu, bertemu, dan mulai berteman.

jadi setelahnya aku masih mendekati dia.

hingga kemudian dia bilang dia mulai kembali menjalin kasih lagi bersama dia. bisa kamu bayangkan?

jahat sekali, kamu yang begitu, kamu yang menangis.

jahat sekali dan disini aku malah menyalahkan diri sendiri, padahal kamu yang tidak tegas, tidak jelas, kamu yang tidak pantas. tapi aku yang terluka disini, hingga harus menulis di segala media fisik dan digital, di setiap percakapan luring dan daring dengan kerabat, di segala sisi otakku yang bisa dijangkau, jelas sekali kamu memilih untuk menyakiti aku, kenapa aku tetap berpikir aku yang menyakiti kamu?

aku jelas tahu bahwa bahkan luka patah tulang pun butuh waktu untuk sembuh, tapi agaknya menginjak minggu ke tiga dengan menyalahkan diri sendiri, menuduh bodoh diri sendiri, merendahkan, mengurangi, mempertanyakan, melakukan hal-hal yang membuatku menjadi pelaku perihal pilihanmu menyakiti aku, saat kamu melanjutkan jalinan kasih dengan manusia yang kamu sebut anjing dan killer itu, rasanya tidak sepadan ya, rasanya sangat menjijikan, naif yang apabila boleh kutukar dengan sebutir telur puyuh pun akan kugadai.

aku terburu menulis disini, saat ini, meraih perangkat laptop dan membuka laman ini untuk menulis, karena aku tidak mau memproyeksikan kesalahan pada diriku seorang lagi. i did it all because i love, i believe, dan ketika itu ngga bertemu dan ekspektasiku, itu bukan salahku, aku ngga perlu membuat skenario lain atau membuat perandaian, aku ngga perlu memutar semuanya seperti kaset rusak, aku tidak perlu menjustifikasi alasan mereka melakukan itu karena aku memang sakit hatinya. aku dikhianati kepercayaannya. dibodohi. dianggap satu yang bisa dibuang dalam masalahnya.

dan aku selalu merasa lebih tenang ketika menulis, aku mengenali rangkaian pemantik sebelum aku mengalami kejatuhan, aku harus tahu pemantiknya supaya aku tidak tergelincir di tempat yang sama setiap harinya, aku harus menopang diriku sendiri. aku pantas untuk yang lebih dari ini.

tolong bilang pada diriku untuk tidak menghiraukan mereka lagi, bukan urusanmu dan perhatikan diri sendiri, lebih dari apapun yang menemani dan membersamai kamu seumur hidup sebelum mereka dan kedepannya, yang akan terus menemani seperti saat ini adalah diri sendiri. ayo kembalikan rotasi kehidupan pada diri sendiri saja, apa yang kita alami benarlah menyakitkan, tapi kita memilih untuk tumbuh, dan beranjak dari situasi ini.

kita itu layak, tidak ada satupun orang yang bisa menyangkal itu.

am not crashing out rn, alhamdulillah. jadi setiap merasa seperti ini lagi, ayo menulis lagi. ayo lepas semua kepedihannya dari otak kamu, jauhkan dari tubuh kamu, tuangkan di media huruf ini, menari indah di atas papan tik dengan jari lentik, tuangkan apa yang bergejolak dalam panci emosi, aku tahu kamu hebat.

kamu pantas untuk seseorang yang akan menerima dan bangga dengan kehebatanmu. aku sayang kamu selalu, terimakasih karena selalu mau bangkit.

salam sayang.