p.s. Az-Zahra

gimana kabar kamu saat ini?

ini udah masuk oktober, september kita seru, keren abis, mantap jiwa.

kita cuti kuliah lagi, masalahnya ekonomi lagi. nangis karena tahu cuma bisa mengandalkan diri sendiri untuk urusan ekonomi, juga harus bertumpu pada diri sendiri untuk mengelola emosi. kadang aku pengen pergi, pengen tinggal sendiri dan kasih bantuan ekonomi aja, aku pengen menemukan sesuatu yang bisa bikin aku merasa hidup, sesuatu yang pengen aku jadikan tumpuan kebahagiaan, sesuatu yang benar-benar ingin aku kerjakan.

aku merasa stuck, benaran diam ditempat saja, ngga tahu mau apa, tahu, tapi terhalang ekonomi. aku punya kerja, gajinya cukup untuk aku, tapi aku punya tanggungjawab untuk bantu ekonomi keluarga juga. tapi itu cukup menghambat cita-citaku, ngga bisa sembarangan resign karena kalau ngga punya uang aku gabisa minta ke siapa-siapa, aku cuma bisa mengandalkan diri sendiri dan keluargaku mengandalkan aku. terjebak, dan aku ingin keluar.

aku pengen kuliah, aku pengen kuliah. harus berapa kali aku bilang itu cita-cita terbesarku yang, ditimbun oleh ekonomi sialan ini.

aku tumbuh jadi anak yang harus mengerti, mengerti kalau aku adalah seorang kakak dari adik perempuan yang harus memberi contoh baik buat adiknya, kalau aku adalah seorang adik dari kakak laki-laki yang tidak bisa dibesarkan dengan cara yang sama, kalau aku adalah anak yang bisa diandalkan untuk kelangsungan hidup keluarga dan memilih untuk tidak pergi saja karena tidak tega, kalau aku adalah ranking 1 di kelas tapi tidak bisa kuliah karena ekonomi keluarga dan aku harus mengerti, kalau aku adalah perempuan yang punya banyak batasan dan ketakutan, kalau aku adalah orang yang dibatasi, yang mengikuti aturan sana-sini untuk kemudian melihat orang lain menerobos batasannya dan tetap hidup, dengan lebih bahagia. aku harus mengerti dan aku merasa hidup tidak ada artinya lagi karena satu kata ini: ekonomi.

kenapa ekonomi jadi hal yang sangat besar disini? kenapa kamu tidak berhenti di merk sabun saja, wahai ekonomi? kamu sungguh membebani, kamu gila dan aku lebih gila sampai cuma bisa menangisi.

isi kepalaku begitu, tapi di september ini aku mulai beranjak. aku pergi ke sana sini, coba itu dan ini, hidup begitu begini. itu seperti aku memasukkan jari kedalam tungku ramuan nenek sihir warna hijau neon yang bergejolak, bau dengan topping tulang belulang kegagalan, menakutkan yang kata penyihirnya aku bisa mati kalau coba-coba menyentuhnya, tapi aku tahu kalau aku akan baik saja, bahkan bahagia karena aku tahu si nenek cuma ngibul jua.

lalu yang bisa kukatakan, aku mencelupkan jari di september ini, mungkin beserta tubuh dan harga diri, aku bertekad bahwa memang ini yang aku ingini, dan si nenek tidak salah juga, aku betulan hampir mati jiwanya, euforia bercampur tangis merana karena merasa hampa, aku bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa, mau pergi saja, mau mati karena impianku terus dimatikan si sabun colek, dalam peristiwa lain, si sabun colek bisa melicinkan jalan biar si empu yang punya banyak sabun bisa dengan mudah mencapai tujuannya, lalu dalam kondisiku yang cuma punya sedikit dan harus dibagi, kalau dipakai berseluncur pun tidak membuatku bisa mencapai tujuan dengan dengan kecepatan penuh, nantinya cuma sampai seperempat jalan dan aku kembali ke titik awal, makanya kadang sabunnya malah aku makan dan bikin mati, sabun kan memang bukan buat dimakan, tapi kalau ekonomi sedikit, kamu ngga punya pilihan lain, kan?

jadi setelah makan sabun, aku menangis dan rasanya sakit sekali ulu hati, ada satu hari dimana aku benar-benar lelah setelah mengusahakan semua yang aku punya, aku mau pinjam sedikit sabun, nanti diganti karena beberapa waktu lagi aku dapat jatah sabunku. tapi famili yang biasa kubagi sabun malah menyakiti aku, hatiku, egoku. dia bilang, "aku taruh sini kalau dia butuh". ya aku butuh lah gila, lagian aku juga pinjam saja, bukan minta. disitu egoku benaran terpelenting, sudah kuusahakan ya, selalu, begitu aku butuh juga, ngga bisakah beri pinjam? ngga bisakah mengerti? kenapa aku selalu harus mengerti tapi kamu tidak?

hari itu terjadi banjir lacrima padaku, yang kubawa beserta ketakutan akan matinya kereta kudaku, kosongnya isi sabunku dan runtuhnya cita-citaku, rasanya sesak, gila, kataku. aku masih harus memproduksi sabun ditengah kesakitan ini? banjirnya berkelanjutan dan sakitnya, sakitnya baru, kamu tahu? dadaku sakit sekali, seharian, semalaman, ini terjadi di september. ini efek yang mungkin diwanti-wanti si nenek.

tapi kemudian, ingat kan bahwa aku memang ingin ini? memang jalan ini yang aku pilih dan, bahagia juga aku setelahnya, meski seperti orang gila, merasa seperti aku mengabaikan kantong bahagia famili-famili, tapi bolehkan aku mengisi kantongku sendiri? sudah lama aku mengisi punya mereka-mereka.

jadi september sungguhan menyiram lebur aku, kamu bisa lihat kantongku diisi banyak hal menyenangkan, seru sekali, kamu bisa lihat di lamanku, seru sekali bukan? meskipun insiden sabun tetap menyakiti aku, tapi aku punya hidup yang benar, aku punya tawa yang lebar di september.

awal oktober ini menyenangkan juga, aku punya kawan yang benar-benar menemani aku, maaf ya kalau aku ngga sopan.. makasih banyak sudah mau jadi temanku, semoga kita sama-sama sampai bila-bila.

-sekarang kantong resahku kosong karena sudah kupindah kesini, semoga terus berbahagia, aku, aku sayang kamu.