di akhir perang
"kubaringkan panah, dan berteriak, menang."
penggalan lagu yang sedang aku sukai, ada kamu didalamnya, lagu terakhir yang ngga kamu dengar sampai ujung, yang padahal kalimat di atas sungguh indah gaungnya.
cintanya sudah habis, sisa duka saja di dada, kamu tidak perlu khawatir karena aku sudah selesai jua.
mungkin yang tersisa hanya sakit karena ego-ku, aku merasa dikhianati, diludahi, dianggap barang mati. seperti tanaman hidup yang mungkin kamu temui di hutan, indah, lalu kamu pergi, dan tersesat lagi, bertemu lagi namun sudah bukan yang kamu ingini karena aku hanya pohon di hutan, bukan rumah pohonmu. rasanya kali ini sudah benar, memang harus begini jalannya, memang harus begini jadinya.
"rasanya bahagia sepenuhnya sampai ku merasa lega, kau merasa lega, ku sampai disana, kau sampai disana."
kita akan temukan kebahagiaan kita dengan tidak bersama, tapi akan datang waktunya saat kita lega, kita yang menjadi aku dan kamu, dua entitas yang akan sampai ke sana.
membaringkan segala panah, meneriakkan kepiluan diselimuti bahagia,
menang.
sejumput rumput digenggaman tanah mungkin berlumur darah, keringat, dan air mata, mungkin jadinya danau kecil, atau lautan luas, atau pantai yang indah. tidak peduli warnanya, luas, dalamnya, kita bisa menepi dan melangkah lagi.
cintanya sudah habis, agaknya sayang yang kupunya pun hanya rasa kepada teman, dan seseorang yang menemani saat aku melewati masa tersulitku,
terimakasih tak terhingga untuk kamu,
terimakasih tak terhingga untuk aku,
"perang telah usai,
aku bisa pulang."